Cerita Olin di Bawah Pohon Natal

06.22

Jam bagian tengah Indonesia mengantarkanku ke sebuah rumah sederhana berdinding merah muda. Manis sekali warnanya. Pintu mobil segera aku buka dan menghampiri pintu pagar kecil tepat di depan rumah itu. Belum sempat aku memanggil atau mengucapkan salam, seorang anak membuka pintu depan yang hanya berjarak satu setengah meter saja dari pagarnya.
"Kak Rara ? Wah Kak Rara sudah datang! Maaf ya tadi tidak dengar ada suara mobil. Jadi lama buka pintunya. Maaf ya kak," kata anak itu sambil membuka pagar tanpa kunci di depannya.
"Halo Olin… Tidak apa-apa kok. Kakak juga belum lama disini," kataku sedikit menunduk. Aku lekat menatap anak dengan gen Arab yang mewarnai wajah mungilnya. Rambut kecokelatan menjuntai panjang. Cantik sekali.
Aku melangkah kecil-kecil mengikuti alunan langkah Olin. Ia membawaku ke sebuah ruangan yang beraroma jeruk. Ada pohon natal di pojok ruangan yang selalu berhasil menarik mataku untuk menikmati kilauan cahaya. Aku memilih duduk lesehan di pojok bawah pohon natal itu. Itu tempat favoritku. 
Ini memang bukan pertama kalinya aku berkunjung dan bukan pertama kalinya juga aku mendapati Olin sendirian saja di rumah. Aku menatap Olin yang berjalan pelan  membawakanku segelas jeruk hangat. Sepertinya dia pintar, dia tau harus memberi jamuan apa disaat hujan kecil-kecil yang tak berhenti sejak tadi.
Ini Februari, dua bulan setelah perayaan Natal. Artinya, sudah dua bulan juga aku mengenal sebagian dari keluarga kecil Olin. Namun, aku tidak melihat perubahan dari ruangan ini sejak dua bulan lalu. Tetap beraroma jeruk dan mendapat pantulan cahaya-cahaya indah pohon natal. Aku juga tidak melihat perubahan sikap dari anak manis di depanku ini. Sekarang, aku ditemani Olin, jeruk hangat, gelap malam, rintik hujan, dan sebuah lagu berjudul Desember. Manis sekali lagu itu. Semoga Olin juga suka lagu ini.
Hampir sama seperti kunjungan-kunjunganku sebelumnya kemari. Aku masih berharap Olin mau berbagi cerita lebih banyak denganku. Sudah dua bulan aku bolak-balik rumah ini setiap Minggu. Namun, masih saja ada bagian rumpang yang aku rasakan untuk melanjutkan tulisanku tentangnya.
Olin mengganti posisi. Ia memilih tiduran di bawah pohon natal pojok ruangan beraroma jeruk itu. Sinar-sinar lembut menghampiri wajahnya. Ia terlihat senang bermain dengan sinar, tersenyum, tertawa. Begitu polos wajah anak kecil 8 tahun itu. “Kak, ini Olin yang hias sama Bunda lo,” Olin menutup sesi lamunanku. “Wow! Olin hebat. Cantik sekali pohon natalnya,” kataku sambil meluruskan kaki. Olin pun mengubah posisi dan duduk di sampingku.
"Kak, cermin di ruang depan itu peninggalan ayah Olin loh," ia berbisik di telingaku. Aku tersadar. Sudah berkali-kali aku ingin bertanya tentang ayahnya. Sudah berkali-kali juga aku mencoba untuk mengalihkan pembicaraanku agar secara tak sengaja ia bercerita tentang ayahnya. Tapi tak pernah berhasil. Kali ini, ia sendiri yang memulai. "Cerminnya bagus kan kak ?" katanya lagi sambil tertawa. Aku menengok ke ruang depan rumah itu. Sejak lama aku sudah melihat cermin lingkaran yang tergantung di tembok kiri ruang depan. Pasti semua tamu juga melihatnya. Sayangnya, aku tak pernah sadar, cermin itu bagian dari cerita tentang ayahnya. Bagian dari cerita yang aku tunggu-tunggu.  Aku mengangguk saja dan menatapnya.
"Ayah Olin sekarang dimana ?" aku memberanikan diri untuk bertanya. Ia tertawa lagi, manis sekali. Giginya tampak tidak lengkap. Olin berdiri dan menari-nari. Aku tetap duduk bersandar ke tembok di bawah pohon natal rumah itu. Aku menatap bintang di puncak pohon natal dan aku melihat bintang itu tersenyum menonton tarian Olin. "Papa Olin di atas kak, sama Tuhan ..." akhirnya jawaban Olin terdengar juga. "Lihat saja wajah Olin. Ini deh wajah papa. Hahaha!" lanjutnya lagi.
Aku terdiam, tak mengerti harus menanggapi dengan pernyataan atau pertanyaan apa. Kata-kata terakhirnya itu memang sering dia ucapkan tetapi tidak pernah berhasil membuatku tahu tentang ayahnya. "Kak, waktu itu anak temen mama nanya sama Olin 'papa dimana?' terus Olin bilang deh, ‘papa Olin di surga’. Eh? lucu banget kak, dia nanya lagi 'kerja di surga ya kak Olin?' trus Olin jawab 'Ia, kerja sama Tuhan'. Hihihihi… Olin ketawa dengernya, dia nanya lagi, 'emang Tuhan ikut kerja ya kak Olin?' Olin bingung deh mau jawab apa, Olin cuma ketawa kak Rara," cerita Olin sembari duduk di sebelahku. Tawa renyahnya masih terdengar di telingaku. Aku pun ikut tertawa bersamanya. Kita berdua tertawa untuk kebahagiaan. Kebahagiaan Olin.
Jam sudah semakin tua. Rumah itu masih sepi. Tapi ponselku sudah dipenuhi missed call calon suamiku. Aku menatapnya. Bingung harus berkata apa. "Kak, sudah malem lo," katanya membuka keheninganku. "Olin berani di rumah sendiri?" aku melempar pertanyaan padanya yang asik memainkan sepatu kain di pohon natal. "Berani dong, kan ada itu," polos sekali jawabannya. Ia menunjuk Yesus di dinding rumah kecil itu. Aku bukan Kristen, tetapi aku percaya jika Tuhan akan melindungi anak ini. Anak baik yang selalu menyambutku ramah tanpa pernah menanyakan maksudku berkunjung ke rumahnya.
"Beneran berani sendiri?" tanyaku lagi. Aku masih belum tega meninggalkan Olin sendirian. "Ia kak, lagian kan ada Fofi,"katanya sambil menunjuk kucing dalam kandang. "Ada papa juga di surga yang jagain Olin. Kata mama gitu... Jadi, Olin tidak boleh takut," lanjutnya lagi sambil membantuku membereskan gelas-gelas kosong bekas jeruk hangat kami.
Mungkin mata kecil Olin pernah menatap ayahnya tapi otaknya pada waktu itu pasti belum dapat merekam wajah laki-laki itu. Tetapi, seorang ibu sudah berhasil meyakinkan Olin bahwa ayahnya ada dan bahagia di samping Tuhan. Putri kecil itu tumbuh besar tanpa ayah tetapi dengan sugesti positif tentang keberadaan seorang ayah.
Setelah menimbang-nimbang dalam diam, aku meyakinkan diri untuk permisi pulang dari kehangatan rumah itu. Awalnya aku kemari untuk menguatkan tulisanku tentang wanita pekerja malam. Aku berharap bertemu ibunya dan menulis hal yang mendalam dari profesi itu. Namun, sejak dua bulan berkali-kali kemari, aku tak pernah bertemu ibunya. Jam kunjunganku sepulang kerja sepertinya sama dengan jam berangkat kerja seorang pekerja malam. Akhirnya, aku bertemu Olin.
Sekarang, aku berhasil dibawa Olin ke dunianya dan aku meninggalkan duniaku. Dunia yang selama ini mengurungku pada sebuah estimasi-estimasi tentang wanita malam. Seorang Olin, di bawah pohon natal, 8 tahun, tanpa ayah, sudah memberi bayangan baru untuk retina dan logikaku. Batinku tak bisa mengelak, begitu lembutnya kasih seorang ibu pada anaknya ini. Aku sempat tak mengerti kemana akan aku bawa alur tulisanku. 
Aku membuka pagar rumah itu dan menuju mobil setelah melambaikan tangan dengan Olin. Baru saja aku menutup pintu mobil, aku melihat sebuah mobil mewah hitam berhenti di depan rumah Olin. Seorang wanita memakai mini dress merah dengan dandanan cukup tebal keluar dari mobil setelah keningnya dicium laki-laki di dalam mobil itu. Aku melihat Olin membuka pagar dan berlari memeluk perempuan itu. “Mama cantik sekali,” samar-samar terdengar suara Olin.

Wanita itu menggandeng tangan Olin masuk rumah dan mobil mewah hitam tadi juga sudah keluar dari gang. Seharusnya aku masuk dan kembali pada rencana awal tulisanku. Namun, batinku menolak. Aku hanya akan menambah beban wanita itu jika mempertanyakan profesi pekerja malam sebagai fakta dalam tulisanku. Aku merasa cukup menemukan sisi positif dari sebuah profesi yang kata orang negatif. Aku memutuskan untuk pulang. Sudah seharusnya aku mengubah alur tulisan ini untuk Olin dan untuk wanita yang tidak pernah aku kenal itu.



Putri

Juara 1 Lomba Cerpen
Ulang Tahun Tabloid Imob Educare

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe