Bulan Terakhir Sudah Mengubahnya

08.15

Dear my sweet wall.. 
yuk berbagi cerita sambil merasakan dinginnya es krim yang menyentuh bibir :*

Axis.powers_3a.hetalia.full.193981_large

***

Tanah Bali sedang sering basah akhir tahun ini. Pemberhentian tahun ternyata juga membuat beberapa jantung mulai menentukan arah. Tidak ada arah yang salah, tapi (mungkin) ada jantung lain yang merasa tersakiti.

Banyak daun menjadi teman datarnya tanah. Daun-daun itu membawa cerita ketika mereka masih melekat pada pohon, sebelum mereka jatuh, terinjak, dan rapuh dimakan waktu. Daun yang gugur itu seperti cerita yang sudah lalu, dia memang masih bisa dilihat, masih bisa dirasakan remah-remah keringnya, tapi tetap saja ketika waktu semakin berlanjut, ia akan menyatu dengan tanah. Habis.

Setiap kali membuka mata di pagi hari, pasti ada aroma tanah basah yang mengundang untuk sejenak ke kebun belakang, menyapa tanaman-tanaman kecil dengan bunga warna-warninya. Mungkin hanya sendiri di rumah ini yang tergila-gila dengan tanah basah dan tanaman rendah, tapi itu tetap menyenangkan.

Melangkah lagi untuk menangkap cerita. Seisi dunia tahu, ketika ada sebutan kasih, sayang, dan cinta, akan ada perpisahan, tangis, dan kecewa. Awalnya seperti air tenang, yang bahkan aku pun tanpa sadar menganga dan berharap "suatu saat aku ingin seperti itu", tapi bulan terakhir ini mengubahnya.

Cerita demi cerita mencoba mengusik lagi ingatanku. Tapi perlahan, rasanya tetap saja itu hanya daun jatuh yang hanya menunggu waktu untuk habis menyatu dengan tanah. Perasaan yang sebentar lagi dimasukkan dalam kotak dan mulai dipindahkan ke tempat paling jauh di dunia ini. Apa? Masa lalu.

***

Bulan terakhir ini sudah sangat membahagiakan. Ketika harapan dalam doaku setiap malam menjadi bagian nyata yang ada di depan mataku, ketika pelukan kasih sayang masih ada untukku, dan ketika waktu masih mengijinkanku untuk berharap dalam doa sebelum tidur lagi. Siapa yang tidak bersyukur atas semua ini? 

Tapi ternyata, tidak semua orang merasakan hangat di bulan terakhir ini. Beberapa lembar cerita mulai dibacakan oleh pemiliknya. Pelan-pelan mulai memperdengarkan kisah yang dalam dan tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Aku mendengarkan lagi. Memang benar, kita hanya punya batas pengetahuan dalam "estimasi", sisanya adalah sebuah taruhan kebenaran dengan Yang Punya Dunia.

Pasti ada bagian yang ingin dimuntahkan oleh sesuatu yang disebut dengan "hati" (sampai sekarang, aku belum tahu, hati dalam artian ini letaknya dimana?). Tidak banyak yang bisa aku lakukan selain mulai membaca mata dari cerita-cerita itu, atau ketika aku tidak dapat melihat mata, aku mencoba membaca lewat kata yang sengaja ditinggalkan oleh pemiliknya. Hanya itu yang bisa aku lakukan sebelum membantu.

Mata memberikan pandangan sebuah ketegaran. Itu yang aku kagumi ketika ada cerita yang hampir sama dengan daun yang pernah jatuh dari hidupku. Walaupun irisan dari cerita itu pasti perih rasanya, hati yang memang tulus dan tegar pasti lebih kuat untuk tetap berjalan tegak dalam alurnya. Dan pembawa cerita itu punya tatapan tegar itu. Apa kalian punya ?

 Kehilangan terkadang memang bertentangan dengan keikhlasan, tapi itu hanya sepersekian detik sebelum kita sadar bahwa disamping kita ada kehangatan yang sudah menunggu sejak lama. Untuk apa mengiris hati sendiri memikirkan daun yang sedang menunggu waktu untuk habis dan menyatu dengan tanah ?

Cerita itu terkadang ditulis tanpa seijin kita. Padahal ketika malam, kita tidak pernah berdoa itu akan terjadi, tapi tetap saja Yang Punya Dunia sudah menuliskannya. Waktunya untuk belajar, belajar untuk meninggalkan, belajar tidak percaya dan mengalihkan kasih untuk tangan yang lain. Itu tidak salah dalam hal ini, ketika kita berhadapan dengan sesuatu yang dalam kategori tega.

Tidak ada ketulusan yang bersyarat. Tidak ada istilah "Sebenarnya" jika yang terjadi ternyata "sebaliknya". Bulan terakhir mengubah pandanganku pada beberapa cerita yang pernah mengambil perhatianku. Tidak ada alasan yang membenarkan sebuah "rasa sakit" yang ternyata diberikan secara sengaja. Dan tentu saja, tidak ada yang menentang ketika rasa sakit itu bisa hilang dengan cepat dan terlupakan. Mungkin pemberi rasa sakit itu akan lebih terkejut lagi dibandingkan dengan yang disakiti waktu yang lalu. Menyesal? Ya silahkan, memang waktunya. "hanya demikian jawaban yang keluar dari aku"


***

Aku masih disana ketika cerita-cerita itu selesai dibacakan. Bernafas kembali ketika tersadar betapa bersyukurnya aku ketika masih ada kehangatan untukku. Aku mungkin tidak dapat membagi dekapan itu untuk para pembaca cerita, jadi sebatas kehangatan dalam kata yang bisa mendekap. Semoga kata itu sedikit menghangatkan. 

Aku tetap disini ketika ada yang mau membaca cerita lagi... Atau mungkin aku yang akan membaca cerita?
Apapun bentuknya, aku dan masing-masing pembaca cerita punya dua tangan yang tidak terkait apapun. Kita tetap bisa menggenggam siapa saja yang masih berduka untuk bulan terakhir yang sudah membuat daun jatuh dan menunggu waktu untuk menyatu bersama tanah. 

Kita bersama-sama bisa menggenggam untuk siapa saja. Tetap berjalan untuk kebahagiaan, meninggalkan daun yang sudah jatuh. Biarkan dimakan waktu dan ceritanya habis menyatu dengan tanah.
"demikian jawabanku.."

jika satu tanganku tengah menggenggam satu tangan lain yang masih tulus memberi kasih sampai sekarang, ingat saja, aku masih punya satu tangan untuk para pembaca cerita :)



Hey Bulan Terakhir
62beb5ed001e5caa50d15830_large

Putri Puspitaningrum





You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe