Desember

06.44

Dear my blog ヽ(´▽`)ノ ini surat untukmu, ada cerita :')


***

"Gek, maaf nggih Wi dateng nggak bilang-bilang, Wi cuma sebentar kok..."

Itu kata-kata yang membuyarkan tatapanku. Baru saja aku mengucapkan "Om Swastyastu" dan masuk ke ruang tamu. Dan ini yang aku lihat. 
"Wi kapan sampe Bali?"
"Kemarin gek, tapi baru sempat mampir sekarang."

Aku tidak sanggup lagi menatap laki-laki ini. Aku mengucapkan kata permisi sehalus yang aku bisa walaupun aku tahu, aku harus kembali bagaimanapun keadaannya.

"Ini sulit, ini sulit," kataku terbata-bata. Ternyata melihatnya saja sudah mengundang air mataku. Aku becermin dan memastikan tidak ada bekas tangisan, menarik nafas panjang, dan kembali ke ruang tamu. Lima langkah lagi sebelum aku tampak di depan matanya. Aku kembali menyeka air mata dan melangkah lagi. Tapi sekarang lebih berat. Aku berusaha tersenyum seriang yang aku bisa.

"Wi, gek punya coklat, Wi mau ?"
"Mau gek, lama udah nggak boleh makan coklat"
Aku menyesal menawarkannya coklat dan untuk pertama kalinya aku kecewa pada makanan favoritku itu.
Aku beranjak lagi, mengambil dua batang cokelat. Tanganku gemetar seperti ketakutan akan mengambil nyawa orang.

Sekelebat rasa bersalah seperti menamparku. Tapi rasa sakitnya dirasakan oleh raja di depanku. Aku sedikit mengerti dengan rasa sakitnya, aku juga sedikit tahu rasa muak menghadapi beban itu. Tapi, aku tidak mengerti rasa bahagia yang selalu berhasil ia perlihatkan di depanku.

"Wi seneng liat gek kayak sekarang, gek masih sering ke danau?"
"Masih Wi, yuk ke danau wi. Disana ada yang panen ikan, bantu Pak Made lagi yuk Wi"

Aku melupakan jadwal les biolaku, aku juga lupa memberi makan Piyu anjingku, aku lupa menutup gerbang rumah, yang aku tau cuma bergegas berjalan sebelum waktunya habis. 

Seperti biasa, berjalan di sampingnya adalah saat-saat berharga buatku. Aku tidak bisa mengabaikan jantungku yang selalu tidak biasa bila disampingnya. Kami membiarkan angin mendengarkan percakapan kami, membiarkan suara burung mengganggu kata-kata kami.

"Woooooiiiii, sini-sini Gek, sini ikannya gede-gede"
Suara Pak Made membuyarkan percakapan kami. Lambat tapi pasti, setelah melepas alas kaki, kami menuju getek dan diantar Pak Wayan sampai di tengah danau. Kami menyebutnya rumah ikan.

Dari sini kami bisa merasakan matahari pagi yang menghangatkan, kami juga bisa merasakan ketenangan, dan tentu saja kerinduan.
"Kalian lama tidak kemari, ayo sekarang bantu beri makan ikan kecil-kecil, kalau panen tiyang saja, daripada kalian jatuh ke danau"
"Ngiih pak, lama tiyang nggak kesini, masih sama ya pak"
"makanya Gus di Bali sajalah"
"nggih pak, ini dah saya pulang buat diem disini terus, sudah habis waktu saya pergi-pergi pak"

Baru saja aku membagikan remah-remah makanan ikan, aku terusik oleh kalimat terakhir itu. Aku menangis dan saat ini aku tidak dapat bersembunyi. Dia mendekat dan duduk di sampingku, menurunkan kakinya, dan bermain air bersama dua kakiku. Aku berusaha tersenyum melihatnya, sebisa mungkin menatap matanya karena aku tidak mau kehilangan waktu-waktu ini.

Pak Made seperti mengerti apa yang terjadi. Ia masuk ke rumah-rumahan dan keluar membawa gitar. 
"Kalian nyanyi-nyanyi pake gitar ini saja ya...hahaha"

dan kita bernyanyi....

I’m so glad you made time to see me
How’s life, tell me how’s your family?
I haven’t seen them in a while

You’ve been good, busier than ever
We small talk, work and the weather
Your guard is up and I know why

Because the last time you saw me 
I still burned in the back of your mind
You gave me roses and I left them there to die

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you saying I’m sorry for that night
And I go back to December all the time
It turns out freedom ain’t nothing but missing you 
Wishing I’d realized what I had when you were mine 
I’d go back to December turn around and make it all right
I’d go back to December all the time

These days I haven’t been sleeping 
Staying up playing back myself leaving 
When your birthday passed and I didn’t call

Then I think about summer all the beautiful times
I watched you laughing from the passenger side
And realized I loved you in the fall

And when the cold came, the dark days
When fear crept into my mind
You gave me all your love and all I gave you was goodbye

So this is me swallowing my pride
Standing in front of you saying I’m sorry for that night
And I go back to December all the time
It turns out freedom ain’t nothing but missing you 
Wishing I’d realized what I had when you were mine 
I’d go back to December turn around and change my own mind
I’d go back to December all the time

I miss your tan skin, your sweet smile, so good to me, so right
And now you held me in your arms that September night
The first time you ever saw me cry

Maybe this is wishful thinking
Probably mindless dreaming 
If you loved again I swear I’d love you right 

I’d go back in time and change it but I can’t
So if the chain is on your door, I understand

But this is me swallowing my pride
Standing in front of you saying I’m sorry for that night
And I go back to December
It turns out freedom ain’t nothing but missing you 
Wishing I’d realized what I had when you were mine 
I’d go back to December turn around and make it all right
I’d go back to December turn around and change my own mind
I’d go back to December all the time

All the time

(Back to December_taylor swift)

Habis sudah lagunya, habis sudah tangisku, habis sudah waktu yang kita miliki mungkin. Pelan-pelan getek kembali mengantar kami ke pinggiran danau setelah berpamitan dengan Pak Made.

Aku tidak lagi bisa berjalan lama, begitu pula dengan dia. Kami sama-sama menertawakan kelemahan penyakit dalam diri sendiri.
"Bli, minta tolong fotoin kita ya"
"Nggih, nggih bli nggih..." Pak Wayan sigap mengambil foto kami.
"wi bawa kamera?"
"Bawa dong gek, yuk sini"
"Buat apa foto wi"?
"Buat dikasi Gek, sama Pak Made, Pak Wayan juga, hehe"

Dari sekian tahun aku mengenal laki-laki ini, baru sekarang kita berfoto bersama. Aku tahu setelah ini akan berat lagi, tapi yasudah aku tidak ingin memikirkan itu. Desember akan selalu indah dan ia menjanjikan itu. Dan tahun ini ia menepati lagi. Mungkin tidak untuk tahun berikutnya.


000

Sampai di penghujung tahun, semua yang berat telah berlalu...
Danau juga masih tenang mengisi Desember tahun ini. Pergantian tahun juga aku lewati disini, di danau ini dengan gaun merah seperti yang aku pakai saat terakhir bersamanya. Aku mengantarkan helaian mahkota bunga sepanjang jalur sampan kecil bersama Pak Made. Aku tidak bicara, tapi Desember dan Danau ini sudah tahu ceritanya. Ternyata Pak Made juga tahu ceritanya, dengan polos ia menyanyikan lagu Chrisye,

Adakah semua kan terulang
Kisah cintaku yang seperti dulu
Hanya dirimu yang kucinta dan kukenang
Di dalam hatiku
Takkan pernah hilang
Bayangan dirimu untuk selamanya

Mengapa terjadi
Kepada dirimu
Aku tak percaya kau telah tiada
Haruskah ku pergi tinggalkan dunia
Agar aku dapat berjumpa denganmu
Adakah semua kan terulang
Kisah cintaku yang seperti dulu
Hanya dirimu yang kucinta dan kukenang
Di dalam hatiku
Takkan pernah hilang
Bayangan dirimu untuk selamanya 

Lantunan nada itu seperti back sound untuk cerita danau ini. Helaian mahkota belum juga habis, tapi rintik hujan datang. Tidak baik berlama-lama, begitu kata Pak Made. Aku menaburkan secepat yang aku bisa, mengucap doa setulus yang aku mampu, yaaa...
Untuk orang yang baru saja menyumbangkan ginjalnya untukku dan meninggalkanku lebih dulu :')
Begini rasa sakitnya, mengambil nyawa orang lain, begini rasa sakitnya ketika ditinggal orang yang berarti, tapi aku merasakan kebahagiaan mengingat kata-kata terakhirnya

"makasi ya gek, sudah mau terima ini, gek bisa bawa wi kemana-mana, wi bisa ikut nari-nari, main-main sama anak-anak. Gek, baik-baik disini. Wi cuma sebentar disini, tapi Wi selamanya di dalam diri Gek"

Ternyata, bukan hanya setiap Desember, tapi setiap detik yang aku lalui, dia menemaniku, menguatkanku, dan tidak meminta apapun untuk membalas itu. Setiap Desember juga aku mengingat pertama kali bertemu dengannya di rumah sakit. Ketika kita sama-sama bosan dengan baju seragam pasien yang berwarna hijau tua. Ketika tawa dan humornya menghiburkan, tidak sedikit pun aku melihat rasa sakit yang tampak dalam wajahnya. Padahal nyata-nyata dia keluar dari ruangan khusus pasien sirosis

Desember pertama kali itu, kami menyambut tahun baru bersama di kebun belakang rumah sakit, bulan-bulan berikutnya, kondisi kami semakin tidak menentu, sampai aku harus mendapati keadaan bahwa aku perlu ginjal dan dia perlu hati, sayangnya dia tidak mendapat hati dan aku mendapat ginjal. Ginjalnya.....
Desember kedua, kami menghabiskan di danau bersama Pak Made. Dan untuk Desember selanjutnya, Tuhan meyakinkanku bahwa kami akan selalu bersama.

***


Putri Puspitaningrum





You Might Also Like

2 comment

  1. yg ini terharu bgt ;") padahal mirip kyk termehek-mehek gitu wkwkwk tp kalo baca kesannya agak beda ya, hampir mau nagis. inget baru hampir :p

    BalasHapus
  2. Dear Yahca penggemar Termehek-mehek ({})

    makasi udah baca ya, semoga yang selanjutnya nggak "hampir" lagi, tapi bisa bener2 :p

    BalasHapus

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe