Klimaks

23.10

Dear rumah surat ....

Terkadang orang dewasa itu selalu merasa lebih benar, menyimpulkan terlalu cepat, dan akhirnya ...aku menangis lagi.

Siang ini, mataku sudah terasa lelah mengerjakan tugas. Tapi, air mata ini bukan karena mata lelah sepertinya, tapi karena lagi-lagi aku disudutkan. Aku mencoba menasehati diriku sendiri untuk sabar dan tidak keluar dari kamar. Biarkan saja mereka berpikir aku sudah tidur atau mungkin mereka akan memperkeras suara-suara menyakitkan itu. 

Tapi, dari kekuatanku untuk tetap diam mendengar kata-kata busuk itu, ternyata ada tangisan juga. Yasudah, mungkin lebih baik aku tidak keluar, tidak bicara, dan tidak usah saja simpati pada keadaan disini, kalo ujung-ujungnya mereka yang aku bantu, berbalik menusukku. Bukan dari belakang, bahkan menusukku tepat di depan mataku.

Beberapa hari yang lalu, sudah sampai pada klimaks, dimana titik jenuh dari kelelahan itu sudah tidak punya jalan keluar lagi. Aku memastikan diri sebelum menguji coba cara yang mungkin membuatku sedikit dianggap disini. Beberapa sahabat sudah aku ajak bicara. Sepertinya, aku memang harus jujur.

Akhirnya, beberapa hari yang lalu juga ternyata sudah berada jauh lebih klimaks dari hari sebelumnya. Huh, tidak bisa menahan rasa lelah yang ditimpakan padaku selama ini. Akhirnya, memutuskan menuliskannya pada sebuah pesan singkat, berharap mereka mengerti.

dan hari ini...
Ternyata semua itu tinggal menjadi harapan kosong. Mereka memberikan apa yang diminta, bahkan memberikan apa yang tidak disangka. Ya! Sebuah amarah dan kata-kata busuk tanpa dipikir dengan otak masing-masing..

Malang sekali sepertinya nasib gadis kecil ini. Sudah lelah, ditimpakan lagi kata-kata busuk seperti itu. Tapi, jauh lebih dalam, bisa dirasakan  bagaimana orang-orang dewasa ini ingin aku merasakan apa yang mereka rasakan, padahal aku ada pada zaman da situasi yang berbeda.

dan akhirnya..

Baiklah, sudah diputuskan untuk tidak lagi bicara, tidak lagi membuka pintu ruangan ini, apalagi meminta untuk dibantu, seberapa lelah pun itu. Sepertinya saraf kesadaran mereka sudah putus...Percuma bicara pada orang-orang dewasa seperti itu kan. Yang bahkan tidak sadar siapa mereka dan apa yang seharusnya mereka lakukan..

Tidak sabar menunggu waktu-waktu pergi dari sini ( '́⌣'̀)/(⌣́_⌣̀) God, bless me please :')

anda, anda, anda, anda **orang dewasa** :) terima kasih sudah mengajarkan cara survive :') mengajarkan dengan cara keras, dengan sindiran, dengan cerita dibelakang , atau kata-kata menyakitkan lainnya.

Saya semakin bersemangat membuat garis hidup saya lebih indah dan bahkan akan menyilaukan kalian semua :)
Jangan berpikir dengan ini, kalian "orang dewasa" bisa menjatuhkan mental  dan membuat  menyerah. Tidak,  sama sekali tidak ada kata menyerah karena hal konyol begini. Jika kalian tidak dapat memberikan hak saya, padahal seharusnya kalian yang menjaminnya, saya akan mencari hak saya sendiri, dengan tangan, kaki, dan tentunya Tuhan di dekat saya :)

Sekali lagi, tidak sabar rasanya keluar dari sini, untuk menyilaukan mata kalian dengan sebuah perjuangan 
Sekali lagi..
Terimakasih ...


With my disappoinment 

Putri Puspitaningrum




You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe