Cerita yang Tidak Sampai *Aku tau :'

08.26


Dear my pen ...
Banyak hal yang akan kita tuliskan kali ini. Tentang bagaimana kata orang, bagaimana kataku, dan bagaimana cerita tentangku yang tidak sampai kepadaku...

from my Mom ... (just now)
"Dik, hari Sabtu bisa ikut odalan di banjar ? Dik ca nggak ikut nari lg pas odalan ?"
adik ngajar lo ma hari Sabtu :'(
"Jam berapa pulang ?"
jam 7an ...
"ya, datang aja ya dik. Dik ca, jarang lo ikut akhir-akhir ini. Luangin ne waktu ca..

and..
from my Dad ... (5days ago)
"Sibuk apa dik ? Dik ca udah beda sekarang ya.. Udah gede. Tambah cantik, tapi jarang di rumah. Bapak jarang ngobrol sama dik ca. hahaha, bingung mau ngomong apa men ya"


Kalo biasanya ada anak-anak yang kekurangan kasih sayang orang tua karena orang tuanya sibuk kerja, itu sama sekali nggak terjadi sama aku *akhir-akhir ini*. Aku anak pertama dan melewati banyak hal bersama mereka, sempat memang aku terpisah cukup jauh dalam beberapa waktu, tapi tidak pernah lah dalam hitungan bulan.

Setiap kali bangun tidur, biasanya aku selalu bertemu ibuku, membuat sarapan seadanya, atau mungkin mendengar lantunan lagu lama yang disukai ibu, hmm...lagu-lagu Nike Ardila, dan artis lainnya. Mungkin yang berbeda, ketika aku masih TK-SMP, sarapan itu jadi tanggung jawab ibu, tapi untuk sekarang, sesiang-siangnya aku bangun tidur, sarapan itu wajib disediakan.

Sampai sekarang pun, aku tetap bertemu ibuku setiap pagi, kecuali hari-hari tertentu yang mengharuskan ibuku tinggal di Gianyar. Tapi, setidaknya aku selalu mendengar suaranya, meskipun lewat telepon. Aku begitu dekat dengan ibu, hingga ketika sebuah konflik keluarga datang, ketika itu aku harus terpisah jauh dari ibu, rasanya ada banyak hal yang hilang.
Jangankan terpisah, ketika ibu tidak membalas pesanku "ma, doain ca ya, lombanya ntar lagi", keraguan mulai menyambar-nyambar. Mama itu powernya besar buat aku..

Dan bapak...
karena pekerjaan, mungkin itu yang membuat aku jarang bertemu dengannya. Tapi, akhir-akhir ini, setiap sore-malam, bapak selalu ada di rumah "jam pulang kerja".
"Bapak jauh kerjanya sekarang dik ca, di Ubud. Sebenernya pengen istirahat di Guwang biar deket, tapi pulang aja deh, buat ketemu dik ca. Hahaha," ucapannya renyah, tapi jauh ke dalam, itu membuat mataku basah.

Tinggal kakekku yang belum berkomentar. Atau sudah berkomentar tapi belum sampai padaku ?

Tentangku yang tidak langsung disampaikan ...

Kata orang, membicarakan orang lain di belakang itu tidak baik, tapi terkadang itu lebih mengusik hati dan proses penyadaran lewat jalur yang tidak halus sedang terjadi...

Tadi pagi, tiba-tiba aku terbangun jam 4 a.m , padahal baru tidur 1a.m.. Lalu yang aku dengar..
"Pak, lomba yang kemarin diikutin dik ca, yang 3 hari itu katanya dapet juara 1"
"Masak? Kok bisa ? Orang dia aja ragu-ragu bilangnya waktu tak anterin kesana ..."
"Iya, hebat ya Pak, bisa gitu"

Hey...tears ..
Aku langsung ngrasa ada di tempat paling indah ketika bisa membahagiakan mereka. Berangkat kesana memang aku akui penuh keraguan. Tapi, setelah ada disana dan mau tidak mau harus menjawab banyak sekali tes, yang aku bayangkan hanya kalian, Ibu Bapak, yang rela nglakuin apa aja.
Pertama, bapak rela terlambat kerja buat anterin aku ke tempat nginep waktu lomba. Bantuin angkat koper yang berat juga.

Kedua, ibuku belum berani lagi mengendarai motor, ya karena trauma pernah kecelakaan waktu yang lalu. Tapi, waktu lomba aku lupa bawa vas. Dan tau ? Setelah aku telepon ibuku memberitahu tentang itu, ibuku langsung lari-lari ke rumah temannya di gang lain, buat minta tolong dianterin ke tempat aku menginap, meninggalkan pekerjaannya buat aku yang ceroboh dan pelupa.

Right, setiap kali aku ngrasa capek, jenuh belajar, atau badanku sakit sehabis latian nari, aku selalu ingat bagian ini. Bagian yang membuat aku punya aim, "memberikan yang terbaik buat mereka" :')

"Dik ca selesai latian nari?'
"masih pak.,kenapa ? Tapi dik ca nggak pernah ke sanggar lagi sekarang-sekarang ini soalnya ada kegiatan lain."
"Nari lagi mu dik, bapak pengen liat dik ca nari. Waktu itu udah mau libur kerja buat nonton dik ca, tapi malah sakit, nggak jadi dik ca nari.."
"iyalo, padahal udah latian. Neh, sekarang dah ca nari disini ya, mana gong nya ? hahaha"
"Beh, sing mepayas ngigel toh"
"Tapi tetep jegeg kan :p"
"Naaahh jegeg.. waktu itu gimana nari Sekar Jempiringnya ? sukses ?"
"Sukses dong, juara dong..
"Siapa jurinya ?"
"itu lo, ibu-ibu yang ngajarin dik ca nari merak pas Denpasar Festival..eh? iya kayaknya pas itu. Ya pokoknya yang anterin dik ca ke rumah itu.."
"Jangan suud nari dik ca, liat ibu ne, sampe sekarang masih nari. Nak alus ben ne yen dadi pragina ..."
"Iya pak ... nak sing suud sing ca ngigel ..
"Banyakin waktu di rumah ya ca. Di rumah aja nggak apa-apa latiannya. Latian sama ibu aja.."
"Iya pak. Dik ca tidur ya.. Oya besok jadi kesana ?"
"Men dik ca sing ngidang milu, engken ?"
"mih...nyusul dah dik ca sorean ya ...
"motornya nggak bisa lewat sore dik ca, titip di depan ya"
"Iya pak..oke sip ..

Tumben.... aku ngobrol sama bapak. Biasanya cuma "halo pak, jam berapa besok berangkat?" atau "gimana Pak, capek ?" , cukup sekian dan terima kasih.

Kangen sebenernya. Dulu, setiap nari dimana aja, bapak selalu anterin, dari latian sampe bener-bener pentas. Sesibuk-sibuknya, tetep aja aku liat bapak waktu aku ada di atas panggung nari :')

Aku dibesarkan di dalam keluarga sederhana yang menghargai setiap anugerah Tuhan, hidup apa adanya, walaupun terkadang terkesan pasrah. Tapi, lewat itu terbentuk aku yang sekarang. Ya..yang seperti ini..

Aku sadar bagaimana sulitnya membesarkan 3 anak dengan karakter yang berbada. Aku, adik pertama, dan adik keduaku masing-masing punya sifat dan kesenangan yang tidak sama. Tapi satu hal yang tidak pernah dibedakan dari kami adalah "kesempatan bebas memilih" . Jadi, secara tidak langsung, sejak kecil kami belajar melihat konsekuensi dari setiap pilihan kami. Sering kami terjatuh, bahkan sering kami mengeluh "kenapa tidak dituntun?" tapi akhirnya kami memiliki sebuah dasar menanamkan keberanian memilih dan menjalani.

Sekarang ini, aku mengajar 2 anak SD. Aku tidak menyebutnya bekerja karena itu bagian dari hobiku dengan anak-anak. Tapi dari situ, setidaknya aku belajar sulitnya mendapatkan uang dan memenuhi biaya hidup. Aku tidak pernah dipaksa bapak atau ibu untuk itu, bahkan aku diminta memperbanyak waktuku di rumah. Tapi, bagian lain dari diriku sadar, aku perlu bergerak untuk mengajarkan diriku sendiri dan setidaknya membantu mereka, walaupun hanya biaya hidupku dan tidak sampai hidup mereka. Jadi, belum seberapa.

Bodohnya, ketika lelah aku sering merasa kecewa dan kecewa, ingin menjadi anak manja daripada seperti sekarang. Tapi, mari lihat lagi, tidur dulu lalu bagun lagi, lihat apa efeknya ketika aku bermnaja-manja dan tidak belajar dari sekarang ...

Berat memang buat aku yang sudah kelas 3 SMA, tapi lebih berat lagi jika aku meninggalkan hobi itu. Tidak ada bagian relaksasi yang aku punya kan berarti... Walaupun, setelah berpikir panjang dan akhirnya memutuskan untuk tidak ikut bimbel, tapi okelah sampai detik ini aku masih berhasil fokus sama studiku dan menyampingkan yang lain. Kenyataannya kalo ikut bimbel buat aku yang sampai di rumah 3p.m, berarti no take a nap ya, dan berhubung aku cukup cepat kecapean dan sakit, jadi diurungkan saja, kalo ambil jadwal malem kan aku ngajar, juga kecapean. Jadi, belajar sendiri seperti 6 tahun di SD 3 tahun di SMP. Kalo kenyataannya materi pelajarannya jauh lebih berat, berarti belajarnya harus lebih keras dan bertanya jauh lebih sering ketika belum mengerti :) Aku punya sekolah, aku punya Smansa dengan lebih dari 80 guru. Aku rasa itu cukup menutup materi itu :)

Yakin.. ya harus yakin dengan berbagai pilihan untuk masuk ke dunia baru atau keluar dari dunia lalu berlalu dengan kalimat
:Sorry, I can't " atau bahkan "Sorry, I'm quit

Tersadar mungkin ada berbagai cerita tentang aku yang tidak sampai langsung ke aku. Mungkin positif, mungkin negatif, atau tanpa arti..

Walaupun sekarang ini, aku pun sadar kalo aku terkesan PI, tapi aku sudah berusaha dan segini yang aku mampu. Berat juga, beban juga lo milih cara atau jalan kayak gini. Kadang-kadang ngerasa nggak guna, bahkan nggak dianggep. Tapi, balik lagi ya ke diri sendiri. Aku tetep positif thinking kok, walaupun sudah sampai titik puncak aku nggak suka dibicarain di belakang, Banyak hal yang aku tau tentang itu, banyak hal yang sebenarnya ingin aku tanyakan tentang opini-opini itu. Tapi, berpikir sekali lagi, setiap orang kan bebas ingin berkata apapun, termasuk tentang aku kan. Jadi, selama kata-kata tidak sampai langsung dari pembicaranya ke aku, ya not responding jadi pilihan.

huft... ya aku ketawa, ya aku bercanda, tapi bukan berarti aku anak kecil yang bisanya bercanda terus jadi follower. Mungkin itu kali ya yang bikin aku ngerasa under of uncomfortable lagi, setelah waktu itu aku hampir nangis gara-gara sudah capek, sudah ngeluangin waktu dalam hitungan bulan, tapi sekali aja lalai sudah jadi TT yang negatif :'( miris kadang-kadang kalo dibandingin mereka yang nggak ngabisin bulan-bulannya buat bersusah-susah, kenapa masih dihargai ?

Berhubung itu sudah terjadi, berhubung juga aku perlu banyak waktu untuk keluarga, berhubung lagi sekali aku kelas 3 dan masa2 kepengurusan terakhir di KISS, ya lebih baik buat memory bagus di bagian sini aja mungkin ya :) :) Tahun terakhir kan, masa perjuangan terakhir, dan semuanya balik lagi ke tanggung jwab ke diriku sendiri sama pilihan awalku buat sekolah di Smansa dan abaikan pilihan orang tua. Kalo aku gagal disini, Ibu sama Bapak nggak mungkin mandang jelek ke mereka, pasti ke aku. Pasti mereka bakal mikir kalo aku yang nggak tanggung jawab sama pilihan sendiri. Sebelum yang kayak gitu kejadian, mending dicegah lah.... setahun ini aja !!!!!! WAR and FIGHT !
Semoga aku segera tau dan segera berubah jadi lebih baik ketika aku sudah mengerti setiap maksudnya ya :)

With my hug










Putri Puspitaningrum

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe