Tentang Cerita Lama yang Dirindukan

11.37


Dear my absurd midnight ...


Ini cerita lama tentang beberapa waktu yang lalu, tapi belum sempat tertulis.

Tumblr_m65etkt1hv1qewh0uo1_400_large
Sun-and-rain-quotes--beauty*--favs--my-album_picforme_01--words--quotes-_-sayings--sexy-quotes_large_large_large

Masih tahun ini. Waktu itu bulan genap. Aku berada di sebuah kota yang baru pertama kali aku kunjungi dan tentunya jauh dari tempat dudukku sekarang. Udaranya sangat dingin. Jadi, waktu itu aku memakai topi, gloves, kaos kaki, booth, jaket dua lapis, dan menggenggam segelas lemon tea hangat di tangan kiri serta 1 pocket pancake hangat di tangan kanan. That was breakfast time.

Semua gedung tampak sama disini. Bahkan, ekspresi setiap orang yang berjalan di sekitarku juga sama, datar dan tampak terburu-buru. Aku mempercepat langkahku karena udara semakin dingin dan aku merasa harus cepat masuk apartemen itu. Sebuah apartemen 3 lantai di tengah kota yang sibuk. Disini, aku menghabiskan waktu tiga hari saja. Ini hari pertamaku.

Ada hembusan udara ketika aku bicara dengan seseorang yang tinggal di apartemen sebelahku.
"Oh, are you Indonesian? itu pertanyaan pertamanya. Baguslah ternyata aku punya wajah Indonesia yang khas.

"Yes, sure. Nice to meet you" aku ingin segara mengakhiri sapaan halaman ini. Udara sangat dingin dan dua makanan di tanganku tidak terasa hangat lagi.

"You're sweet, I like your smile and your necklace," kata-kata itu sedikit menghangatkan tapi #degh... Dia bilang "your necklace". Itu membuat udara sekitar menyesakkan dan terasa sangat panas.

"Thank you Sir, Sorry, I think I'm not too well and I need time to take a rest. Next time, I want to meet you again.."

"Oh sure, you can come to my apartemen. Maybe, this clime too cold for Indonesian. Oh ya. I'm Deyna..."

"yes, I'm Putri ...

Aku masuk ke apartemenku. Dindingnya berwarna cream dan membuat aku teringat kamarku sendiri. Disini tidak ada perapian, tapi ada penghangat ruangan. Aku mensetting mesin itu agar membuat ruangan ini hangat, lalu memulai sarapanku sekitar pukul 9 a.m.

Setelah menyelesaikan sarapan, aku tidak tahu akan apa. Akhirnya, aku mengirim sms untuk mamaku, mengabarkan jika aku baik-baik saja. Aku hanya duduk dan memandangi ruangan ini. Sepi sekali. Suasana yang bagus untuk belajar memang. Mungkin karena itu, negara ini jadi sangat maju ? Iya, sepertinya begitu.

Yups! Aku berada pada titik kebosanan yang teramat sangat. Aku memakai lagi jaket 2 lapis, topi, dan booth yang tadi aku lepas ketika sarapan. Aku keluar apartemen lagi. Berharap udara benar-benar berubah dari yang tadi.

Ternyata benar. Udara tidak sedingin tadi pagi. Aku berjalan ke arah bagian belakang gedung apartemen ini. Disana banyak anak-anak yang bergandengan tangan dengan orang tua mereka. Disana ada TK. hahaha, ini berhasil membuat aku kangen bapak ibuku di Bali. Tapi, sudahlah tiga hari saja kan.

Aku meneruskan perjalanan dan aku menemukan sebuah florist dengan nama "Like you Feel". Di depannya berjejer ember-ember bunga. Ada dua ember bungan lili putih disana. Itu yang mengundangku mendekat dan mengambil satu tangkai.

Kemudian, aku juga mengambil setangkai bunga krisan cantik berwarna ungu muda. Aku pikir 4 tangkai lili putih dan krisan ungu ini dapat mengisi vas bunga kosong di apartemen.
"Good afternoon ladies" sapa kasirnya.

"Selamat pagi gadis Indonesia," katanya lagi mencoba berbahasa Indonesia tapi terbata-bata.

"Selamat pagi juga, Good morning too," kataku.

Mungkin suara kita terlalu keras untuk florist yang minimalis ini. Jadi, seorang  ibu pun keluar. Dia pemilik toko ini sepertinya dan aku rasa dia orang Indonesia.

"Indonesia ?" katanya bertanya..

"Ya, saya tinggal di Bali," kataku kepada ibu yang berdiri dekat ember krisan oranye  itu.

"Mari minum teh bersama, ayo masuk.. Panggil saja Ibu Doya," dia menggenggam tanganku dan mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Tepat di belakang florist itu. Aku meletakkan bunga tadi dekat kasir dan memberi isyarat agar bunga itu ia simpan baik-baik. Aku mengikuti ibu itu masuk. Bahasa Indonesianya masih lancar. 

"Sudah lama saya tidak pulang ke Indonesia. Saya kangen Danau Toba padahal, hahaha"

"Dari Sumatera Utara ?"

"Bukan, saya asli Bandung tapi besar di Sumatera Utara, hingga SMA, lalu kuliah di Yogyakarta, dan sekarang disini"

Aku menyeruput teh hangat itu. Rasa teh hijau yang segera ingin dihabiskan dan minta lagi, hhahaha.

"Pasti besok kamu harus presentasi ya ?"

"Iya, lo ibu tau ?"

"Jelas tahu. Beberapa hari yang lalu apartemen di depan itu memesan bunga untuk menghias ruangan dari saya. Katanya untuk penyambutan finalis _______"

"hmmmm, bunga di ruangan saat welcome remark sangat cantik"

"terima kasih. Semoga sukses ya. Akhirnya, Indonesia kembali kesini setelah beberapa tahun"

"itu kebahagiaan sekaligus beban untuk saya"

"Iya, dulu juga saya merasa begitu.."

"Dulu ? Ibu ini yang ...."

"yasudahlah, kamu pasti tau. Siapa nama kamu nak ?"

"Oh iya, sampai lupa menyebutkan nama. Panggil saja Putri."

"Putri dari Bali ya. Saya mengikuti beberapa hal tentang kamu karena saya bahagia akan bertemu kamu disini. Apa kamu suka bunga ?"

"Iya suka. Lili dan krisan juga"

"Mawar ?"

"lebih suka lili"

"dan saya juga tidak menjual mawar karena saya tidak suka, hahaha"
Tawa renyahnya mengundangku untuk tertawa juga.

"Tadi, saya ingin mampir ke apartemen kamu untuk berkenalan.  tapi Sang Dewa mempertemukan kita disini"
_sang Dewa_ sebutan baru bagiku...

"Iya ibu. Tuhan memang baik,"

"mau berkeliling kota sebelum besok dan dua hari lagi harus berkonsentrasi penuh ?"

"Ya tentu saja"

"Siapa tahu, Putri bisa beli sesuatu untuk teman-teman. Pasti banyak yang minta oleh-oleh ya ??"

"Satu pun teman tidak tahu , saya ada disini sekarang.."

"lo ? kenapa ?"

"hmmm, saya masih tidak percaya bisa sampai disini..jadi saya takut bilang, hahaha"

Aku mulai keluar florist itu setelah tidak membayar 4 tankai lili putin dan 1 tangkai krisnan. Kata ibu itu,"spesial untuk saudara Indonesia". Kami berjalan bersebalahan menuju apartemenku dulu. Aku ingin mengambil kamera dan menata 5 tangkai bunga cantik ini.

Kita berjalan ke arah taman bunga. Wow, itu taman bunga yang luas dan sangat sangat cantik!
"Putri suka ?"

"Iya bu, bagus banget..."

"perlu kesabaran untuk menanamnya"

"Ini ibu yang tanam ?"

"Iya.."

"Semuanya?"

"Iya, dan kamu juga bisa nanti,. Setelah kembali ke Indonesia.."

Kita duduk disebuah bangku kayu dengan meja bundar di tengahnya. Sebenarnya ada 4 bangku. Jadi, dua bangku sisanya kita pakai untuk meletakkan payung.

"Kenapa Ibu memilih menetap disini ?"

"Ini hanya masalah pekerjaan. Jadi, saya membawa seluruh keluarga kesini. Oya, saya punya 2 anak dan yang paling besar 3 tahun lebih muda dari kamu. Namanya Vea"

"Oh iya? dia pasti cantik. Tadi, Putri tidak bertemu, lagi di sekolah ya ?"

"Iya, di sekolah musik. Benar dia cantik dan bisa mempercantik hati saya. Dia buta"

aku mulai memilih-milih kata untuk melanjutkan...

"Putri, kamu pernah kehilangan sesuatu..?"

ingin sekali aku bilang "iya, aku baru saja kehilangan sesuatu. Ntah aku yang menghilangkannya atau takdir yang begini, Tapi aku merindukannya sangat.." .. tapi aku memilih berkata :
"tentu saja Bu.."

"Apa kamu sedih ?"

"Iya ._."

"Itu artinya kamu merindukan yang hilang itu ?"

"Iya ._."

"Sudah berapa lama ?"

"masih dalam hitungan minggu.."

"Apa kamu menginginkannya kembali"

"ya, masih ingin"

"dengan syarat ?"

"maksudnya ?"

"apa kamu ingin dia kembali dengan sesuatu untukmu"

"iya ._."

"Apa sesuatu itu sudah kamu katakan padanya ?"

"Tidak, sepertinya tidak bisa"

"kamu sedih sekarang ?"

"iya masih.."

"mau sedih sampai kapan ?"

"ntahlah.."

Angin bertiup, aku melipat tangan di dada. Dingin sekali...

"Anak saya kehilangan matanya. Saya kehilangan mata anak saya. Saya sangat sedih dan anak saya mungkin juga sedih tidak dapat melihat indahnya taman bunga ini. Tapi, kata suami saya, kita tidak boleh sedih berlama-lama. Kita memang harus kehilangan makanya kita kehilangan. kalau "tidak harus" ya tidak mungkin terjadi..."

"hehhe, iya benar sekali..."

"Apa kamu merasa kehilangan ini karenamu Putri ?"

"Iya ._."

'kenapa ?"

Air mataku mulai menetes. Aku tidak ingin ibu ini melihatnya tapi sudah terlanjur.

"Rasanya sepi ya ?"

"hehehe" aku tertawa sambil menghapus air mata.

"anak saya juga pasti merasa sepi ya tanpa sepasang bola mata indah. Oya, bola matamu coklat, mirip sekali dengan anak kedua saya, Dia punya bola mata coklat"

aku tidak menjawab, aku terbawa angan-anganku...

"Apa yang dia lakukan sampai kamu kehilangan ?"

"Ntahlah ..."

"Dia jahat ?"

"Awalnya aku berpikir begitu, tapi semakin lama aku merasa aku yang salah. Tapi, aku sudah kehilangan kan. hehehe..harus apa lagi ?"

"apa ada orang lain yang mengambilnya ? seperti boneka teddy bear Vea yang diambil anak tetangga. Karena Vea buta, Dia pikir Vea tidak tau, padahal Vea sadar, tapi dia diam. Membiarkan boneka teddy bearnya diambil. Samakah ?"

"Tidak begitu"

"lalu ?

"yang hilang dari aku bukan boneka teddy bear yang tidak bisa menolak ketika dioper kesana-kemari. hahaha..jelas bukan teddy bear..."

"berarti dia yang memutuskan untuk membuat kehilangan ?"

"ntahlah..."

"sama seperti orang tuamu yang kehilanganmu sekarang kan. Tapi ini kamu yang memilih untuk disini beberapa hari. Apa dia memilih disana untuk beberapa waktu ?"

"Aku tidak tau sampai kapan. Atau mungkin selamanya dia disana ? ntahlah..."

"apa dia berkata _ya_ beberapa waktu sebelum ada kenyataan bahwa kamu akan merasa kehilangan? sama seperti Vea yang kehilangan mata ..

"Seingatku dia tidak bilang _ya_.."

"lalu ?"

"aku meninggalkannya ..."

"lalu dia ?"

"sempat mndekat .."

"kemudian ?"

"menjauh sampai sekarang..."

"kenapa menjauh ?"

"ntahlah ..."

"pasti kamu merasa dia nyaman di tempat yang baru. Right ?"

"iya, aku merasa begitu ..

"kamu menyesal ?

"ntahlah.."

"kamu merasa tidak lebih baik dari tempatnya yang baru ?"

"iya ._."

"apa ada yang membuktikan bahwa *kamu memang salah ?* *dia menjauh karena merasa nyaman dengan tempat yang baru* *kamu tidak lebih baik dari tempat yang baru?* ???

"dia tidak disampingku lagi..."

"benar-benar tidak ?"

"hmmm, ada tapi semu .."

"mengapa semu ?"

"aku merasa begitu, karena.."

"karena ? "
"dia menghubungiku tapi tidak bicara apapun. selalu begitu.."

"kamu ingin bicara dengannya ?"

"iya.."

"apa yang ingin kamu bicarakan ?"

"ntahlah, tapi aku mendengar kehangatan.."

"apa ?

"ntahlah... aku masih belum tau...

"Tunggu saja Putri. Lihat Vea, dia amat merindukan mata kan. Tapi, mata aslinya tak pernah ada disisinya, tak pernah mengabarinya, tak pernah ada sejak ia perlu bahkan dia hanya diijinkan berada dalam kegelapan dan smaar-samar cerita indahnya taman ini. Berpikirlah kamu beruntung Sayang. Dia pernah disampingmu kan ? dan dia pernah ingin kembali disampingmu kan ? dia ada, ntah semu atau tidak, tapi dia ada kan?..Kamu benar telah meninggalkannya "

"benar ?"

"iya, anggap saja putri memberi ruang untuk merasakan yang lain dan akan kembali jika memang Tuhan menghendakinya. Bukankah, kita memang harus merasakan yang lain untuk tahu seberapa berharganya yang pernah kita lalui ? Belum tentu dia nyaman dengan tempat yang baru, belum tentu Putri lebih buruk dari tempat yang baru. Mungkin saja dia sama seperti Putri, sedang bercerita dengan seseorang tentang kerinduannya denganmu :) ... Vea juga begitu. Dia tegar tanpa mata, tapi dia selalu bilang "aku pasti bisa melihat bunga-bunga ibu di taman. Pasti mataku akan coklat seperti adik". Begitu pula Ilon , anak keduaku, dia selalu bilang "Ilon pasti bantu kak Vea melihat :)". Iya Putri, kamu merasa dia meninggalkanmu atau kamu meninggalkannya, itu tidak penting. Lihat saja, mata tidak pernah meninggalkan Vea , apalagi Vea yang meninggalkn mata ? sama sekali tidak pernah. Tapi ini takdir Tuhan. Mungkin begitu yang terjadi pada rasa kehilangmu itu...

"terima kasih, kata-kata itu membuatku tenang.. Ibu, bisa kita kembali ? sepertinya sudah akan malam ?"

"Oh iya, mari...

Kita beranjak dari kursi meja bundar itu. Mulai lagi merapatkan jaket.

 kamu kelas berapa sekarang Put ?"

"masih kelas 2 SMA bu ,"

"di ?"

"SMAN 1 Denpasar .."

"sekarang sedang libur kah ?"

"Belum, tapi test sudah berlalu, tinggal menunggu rapot"

"Apa kamu sudah memastikan semua akan baik-baik saja sebelum memutuska kesini Putri ?"

"Aku tidak ingin memastikan apa-apa Bu, masa usahaku sudah habis kan, tinggal melihat hasilnya saja, Itu bukan kuasaku lagi Bu, hehehe"

"Besok bagaimana ? Sudah siap presentasi ?"

"yah, jika no 4 sudah dipanggil, aku harus presentasi.."

"hahahaha, semua akan baik-baik saja. Besok aku akan kesana mendukungmu"

"ajak Vea dan Ilon ya Bu, besok kan Sabtu.."

"Tentu saja, mereka pasti senang berkenalan dengamu ..."

Kita sampai dipersimpangan belakang apartemenku. Aku lurus dan ibu itu harus belok kiri.



255589_381216095268988_1767843565_n_large


Terima kasih jamuan minum teh dan jalan-jalannya :)
4 tangkai lili dan 1 tangkai krisan yang cantik juga gratis :p
taman yang indah dan ketenangan dalam dingin musim disana
Sudah lebih dua minggu sejak kembali dari sana :)


Untuk Ibu Doya dan keluarga ...



to be continue _

You Might Also Like

2 comment

  1. ciput kamu lagi di belanda?
    *kemudian nodong oleh-oleh*
    Lalalalalala :D

    BalasHapus
  2. hehehe, kan itu cerita lama kakak jegeg :)) kasi oleh-olehnya nggak ya ._. hahaha

    BalasHapus

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe