Rindu dan Surat Kecil di Rumah Kayu

07.22

Langit malam di luar ruangan ini pasti gelap. Tapi,  ada tanda-tanda hujan seperti kemarin. Aku mendengus pelan. Tak ada jendela yang membantuku melihat langit malam ini. Apa indah ? Apa langit malam ini indah ?

Aku enggan membuka pintu dan keluar. Badanku masih lemah setelah bergulat dengan hujan dan badai berkali-kali. Tapi sekarang ada badai lagi disini. Huft..Udara mulai mendingin. Perapian di rumah ini sepertinya sudah terlalu usang. Sudah tidak dapat menghangatkan. Sayang sekali, musim dingin begini, siapa yang mau dipanggil untuk memperbaiki perapian ?

Ini musim dingin kesekian yang aku lewati di sini. Tempat ini memakan waktuku untuk terdiam dan menganga. Ketika sampai di bandara, aku tersadar bahwa ini bukan sebuah dongeng lagi. Aku juga tak ingat jika ibuku pernah mendongeng tentang seorang Putri upik abu yang akhirnya tinggal di kerajaan besar. United Kingdom !

Aku membolak-balik sebuah surat usang yang kusimpan sejak aku berusia 15 tahun. Masih dapat dibaca walaupun tintanya semakin tak beraturan. Sekitar 7 tahun yang lalu, aku mendapatkannya di bawah pot kebun sekolahku dulu.

Aku mengambil syal untuk membalut leherku yang mulai tak tahan dengan dinginnya udara. Perapian padam dan sejenak ruangan berteman sebuah kursi goyang ini menjadi gelap. Aku tidak menyalakan lampu lagi, aku memilih tidur dan memeluk surat kecil itu.

Hari ini sepertinya hari terakhir musim dingin. Setelah badai menghantam kota kecil di Selatan ini, akhirnya mentari menapakkan hangatnya lagi. Tapi, uap udara ketika bicara masih dapat dilihat. Itu artinya, aku masih harus memakai baju rajutan buatan ibuku itu

Tak lama setelah 2 halte aku lewati, aku sampai di kota baru. Kota penuh orang sibuk dengan bisnis di otaknya. Pemandangan yang sudah aku lalui berulang kali, tapi tak membuat aku menirukannya juga. Baiklah, hari ini aku memulai hari dengan mata cerah, baju rajutan hangat, sarung tangan hijau muda dan sepatu boot dengan bulu-bulu yang lembut. Aku berdiri disana. Berteman biola dan manghadapi ratusan pasang mata.

Gesekan pertama biolaku mengundang decak kagum dan tepuk tangan orang-orang bermata biru disana. Gesekan kedua, ketiga, dan seterusnya membuat mereka terdiam dan terhanyut. Alunan nada biola untuk rasa dingin yang aku rasakan musim ini, kerinduan pada orang yang merajut baju untukku, pada cinta yang aku tinggalkan 7 tahun yang lalu, pada rumah yang membalut hangat tanpa perapian, pada jenuhku disini.

Harusnya aku memainkan nada romantis untuk mereka yang berdansa disana. Tapi, irama tanganku tak seharmoni dengan not balok di kertas di depanku. Jadilah alunan tak beraturan tapi ntah kenapa orang-orang putih disana masih terdiam dan terhanyut. Tapi, baguslah, karena jika mereka protes aku bisa dipecat dari restoran ini.

Sudah pukul 8p.m .. Aku melewati dua halte dan sampai lagi di rumahku. Tak ada yang menyambutku disini karena kunci rumah hanya aku yang membawa. Rasanya tidak enak ketika di negeri orang, musim dingin, tetangga memilih menghangatkan diri di dalam rumah. Negara ini tak seperti tempat kelahiranku. Jelas saja, salju pun tak ada. Apa negeri ini tak mau membagi salju sedikit saja sekedar untuk oleh-oleh yang akan aku bawa nanti pulang ke sana ?

Perapian usang itu sepertinya sedikit bersahabat. Tapi, percuma saja, udara mulai menghangat. Besok pagi mungkin musim semi sudah dimulai. Artinya, libur musim dingin sudah berakhir. Aku harus kembali dengan setumpuk materi, buku, dan tes. Aku mengemasi barang-barangku, bersiap melangkah lagi ke Universitas terkemuka di dunia itu. Huft... masih sama, hampir setiap hari aku tak percaya bisa ada disini menikmati musim dingin. Tempatku kembali pasti sudah menunggu. Aku selalu menganggap bahwa ia merindukanku, setidaknya aku tidak sepi sendiri. Baiklah, besok pagi aku mulai memelukmu lagi. Oxford !

Angin malam yang sejuk mengundangku menepi ke jendela. Datar dan gamang yang aku rasakan. Aku terbayang keserhanaan disana ketika bermimpi pun aku bercerita dengan teman-teman. Disini aku tak kurang teman, tapi aku kurang rumah dan manusia-manusia hangat di dalamnya.Aku bercerita pada angin sejuk itu tentang kekagumanku pada negara ini. Negara di benua lain yang membuatku berkata *Wah* berkali-kali. Tapi, ada apa ya ? Mengapa ketika harus tinggal disini 2x365 hari, rasanya aku hanya ingin menghabiskan 5 harinya saja. Dan sisanya ? aku rindu pulang.

Aku memainkan lagi biolaku. Tak apalah mengganggu tetangga sekali-sekali. Toh juga, jarang-jarang aku ada di rumah kayu kecil ini, terkadang kesibukan  membuatku ingin diam saja di bilik kamarnya.Satu gesekan mengundang sesak dadaku. Gesekan kedua membuat aliran air mata. Gesekan ketiga , aku tak sanggup lagi. Aku menutup wajah dengan kedua tanganku. Tangisku mengirimku pada kelegaan hati yang teramat sangat.

Begitulah caraku menghabiskan ini semua. Kehidupanku sekarang disini bukan disana lagi. Sedikit lagi aku bisa menyelesaikan ini. Tinggal mengangkat koper , masuk bus, dan kembali ke universitas. Melalui ini semua,, bukan hal yang sulit kan ?

Aku meninggalkan rinduku dan surat kecil di rumah kayu dengan perapian usang ini. Menjalani musim semi kembali. Tentunya dengan kehidupanku yang sekarang.

Biarlah rindu itu berubah wujud dan surat kecil itu lapuk dimakan waktu karena mereka berdua datang membawa harapan semu yang mengundang tangisku, meluruhkan inginku. Tak mungkin aku kembali dengan hal dan cara yang sama ketika aku pergi.  

Pagi datang, saatnya tersenyum dan membuka musim semi disana :) dengan baju rajutan dari Ibu.. Aku meninggalkan rumah kayu, rindu, dan surat kecil itu... Musim semi bahagia sudah menantiku :) Selamat tinggal rindu, surat kecil, dan rumah kayu.. Musim dingin nanti, aku pasti kembali kesini :) dengan cerita baru yang kurangkai nanti





You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe