Semut dan Cendrawasih

06.59




Suatu hari semut bertemu dengan si cantik Cendrawasih. Pesona indah tiap lengkung bulunya membentuk bayangan indah yang dulu tak pernah terbentuk pada sepasang mata semut. Menganga ia dalam buaian warna-warna indah yang tak habis menggoda mata-mata kecilnya itu. Seorang diri saja mengintip Cenderawasih yang dengan lihai menggerakkan ekornya membentuk harmoni semburat warna. Pembentuk bayangan indah.

Diantar sebuah keinginan menjadi indah dan keraguan akan kepastian "akan indahkah?", semut itu mendekat. Semburat harmoni warna bulu-bulu Cendrawasih itu semakin menyilaukan. Memantulkan cahaya remang yang indah diantara gelap hutan berteman pohon-pohon Pinus yang entah darimana bibitnya.

Disambut ia dengan senyuman terindah. Berhenti Cendrawasih mengayunkan ekor indahnya. menundukkan kepalanya. Ia mempersilakahkan semua menaiki jambulnya. Cendrawasih meluruskan kembali lehernya. Jadilah semut lebih tinggi, menatap dunia lebih jauh. Lebih terpesona semut melihat birunya pantai yang dulu hanya menjadi musuh terbesarnya (ia takut ditelan setetes air), terpesona lagi dengan semburat matahari sore yang ingin segera menutup hari, dan sangat terpesona ketika barisan burung indah yang lain mendekat.

Merak dengan ekor kipasnya, Jalak dengan bersih suci tubuhnya, Merpati dengan pita lehernya, Angsa dengan keanggunannya, Beo dengan kemampuan bicaranya, Kakaktua dengan warna mencoloknya,dan tetap dengan Cendrawasih dengan indah tubuhnya. Semut dapat melihat dengan jelas. Bukan hanya melihat bagian kecil dari kaki para burung. Bahkan, seluruh tubuh burung-burung istimewa itu dapat dilihatnya.

Sebuah sudut pandang yang benar-benar berbeda. Cendrawasih menaikkan ia ke atas bulu kepala yang begitu indah. Membuat ia merasa begitu jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Ketika ia hanya berteman tanah, mikroba, telur cacing, ulat, bahkan cacing juga, bakteri, tikus tanah, bermusuhkan platipus,dan mengagumi ulat sutera. Sebatas ulat sutera.

dan kini, ia diberi kesempatan mendekati langit. Bersandar pada kepala Cendrawasih. Mengingat-ingat ia masa lalunya, ketika kecoa jahat membuatnya terlelap dalam kekecewaan, ketika jangkrik dan belalang mengambil seisi hatinya. Dan sekarang, burung Cendrawasih mengangkatnya. Ia melihat kumpulan burung indah dengan kerendahan hati, denga keindahan diri. Bukan lagi kecoa jahat, jangkrik, atau belalang murka yang seenak hati menjatuhkannya ke tanah yang lebih dalam. Ia sekarang menatap lebih tinggi :)

Berterimakasih ia pada Cendrawasih. Mengucap syukur ia pada Tuhan yang begitu besar dan mengisi ruas otak semut yang begitu hemat tempat. Berterimakasih ia pada burung-burung indah yang mau berbagi keindahan. Ia yang sekarang tak hanya berani menatap Cendrawasih dari jauh atau dari balik semak. Tapi bersama Cendrawasih dan burung indah lainnya menatap langiy jauh lebih indah. Sebuah bentukan sudut pandang yang berbeda.

Semut dibuat tak merasa kecil disamping burung-burung indah itu. Tapi semut dibuat merasa bersyukur untuk kecil dan bertemu dulu dengan kecoa, belalang, dan jangkrik dulu sebelum bertemu dengan semburat cahaya biru, oranye, merah,d an kuning pagi dari Langit. Semut akan besar senormal seekor semut.. :) tapi mimpinya leboh besar dari ukuran tubuhnya :) pasti, pasti lebih bsar. Ketika Tuhan membawanya pada kenyataan , keindahan sebuah sudut pandang baru, :)


-----
inspired by :
Kadek Doi, dkk :D

You Might Also Like

0 comment

I'm so glad to receive your words :)

Translate

Entri Populer

Subscribe